Skip to main content

Implementasi Kaderisasi di Kampus

Baru-baru ini di beberapa group yang terdapat di akun Facebook saya, banyak teman yang membagi sebuah artikel buatan dosen yang menanggapi OSKM ITB (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) 2012 (DI SINI). Artikel tersebut dibuat oleh salah seorang dosen yang cukup populer di teknik elektro dan mungkin juga di ITB yaitu Pak Budi Raharjo. Dalam tulisannya beliau menekankan tentang teknik menyampaikan materi yang dilakukan oleh orator yang sangat terlihat dibuat-buat (dipenggal-penggal) dan menyebabkan informasi yang ingin disampaikan menjadi tidak jelas.
Mari kita menelaah sedikit ke dasar dari setiap kegiatan kaderisasi yang ada saat ini. Kader adalah orang atau kumpulan orang yang dibina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi, baik sipil maupun militer, yang berfungsi sebagai 'pemihak' dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut (Nano Wijaya). Dalam hal membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut, seorang kader dapat berasal dari luar organisasi tersebut dan biasanya merupakan simpatisan yang berasas dan bertujuan sama dengan institusi organisasi yang membinanya (Nano Wijaya). Kaderisasi merupakan usaha pembentukan seorang kader secara terstruktur dalam organisasi yang biasanya mengikuti suatu silabus tertentu. Kader diambil dari istilah yang diperkenalkan Lenin pada masa pembentukan Partai Komunis Soviet. Kader harus memiliki nilai-nilai yang mendasari sikap dan prilaku yang dapat mendukung tujuan dari organisasi. Lalu, bagaimanakah implementasi kaderisasi agar kita dapat menghasilkan kader yang baik? Pertanyaan ini dapat kita ulik sedikit menjadi, bagaimanakah agar kader dapat memiliki nilai-nilai yang dapat mendukung tujuan organisasi? Bagaimana agar nilai-nilai tersebut melekat pada diri setiap kader? Ada banyak metode yang dapat digunakan salah satunya yang paling populer adalah dengan pendidikan semi militer atau militer. Apakah sebenarnya yang ada di dalam pendidikan model ini? Oke, tahan dulu, saya ingin menanggapi terlebih dahulu tentang penerapan kaderisasi di ITB.
Saya berpendapat bahwa tidak hanya OSKM ITB 2012 tapi juga kebanyakan kegiatan kaderisasi di ITB memiliki kelemahan dalam bagian penanaman nilai ke setiap individu peserta kegiatan. Saya melihat kaderisasi di ITB lebih ke penambah wawasan dan pengalaman, memperluas pertemanan, dan pensuasanaan kampus yang meriah dengan berbagai kegiatannya. Penanaman nilai ini saya anggap lemah karena saya dapat melihat diri saya sendiri yang telah mengikuti sejumlah kaderisasi di ITB namun tidak merasakan nilai berarti yang tertanam dalam diri saya setelah mengikuti kaderisasi. Saya melihat metode yang tanggung dan kurang jelas. Saya sering berpikir apakah mahasiswa ITB terutama yang menjadi panitia kaderisasi selama ini hanya meneruskan tradisi tanpa mengetahui mengapa mereka harus teriak-teriak, mengapa mereka harus menyuruh peserta push-up, mengapa mereka harus terlihat marah, mengapa mereka harus mengintimidasi peserta, dll. Kenapa saya berpikir demikiaan? Ya, karena saya melihat proses yang mereka lakukan tanggung. Jika memang tidak mengerti dengan baik lebih baik gunakan metode lain.
Ok, saya akan memperjelas.
Metode yang mereka lakukan mengarah ke pendidikan semi militer. Pendidikan ini bertujuan memasukkan nilai-nilai apa saja yang diinginkan dengan cara yang sering dilakukan adalah membuat peserta lelah dan mengalami emosi yang berkecamuk. Apakah metode ini cukup dengan 1 minggu ? Saya rasa sulit. Apalagi dilakukan oleh panitia yang tidak berpengalaman soal ini dan tidak menguasai nilai yang harus dimasukkan. Metode pendidikan ini biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga yang sangat memfokuskan diri dalam pembelaan negara seperti TNI. Saya yakin panitia yang tidak terlalu memahami tujuan dari metode ini (yaitu memasukkan nilai) dan merasa metode ini tidak cocok di ITB (saya pun juga merasa tidak cocok) malah tetap menggunakan metode yang sama hanya saja diperlunak. Panitia hanya teriak-teriak tanpa kontak fisik, push-up hanya 10  kali bukan 100 kali, dan peserta dijemur hanya 1 jam bukan 6 jam. Hasilnya tentu saja hanya lelah dan rasa dongkol para peserta, tidak ada nilai yang berhasil masuk.
Pasti makin bingung, apa sih nilai, masuk kemana, gimana masukinnya. Baiklah saya akan jujur. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik soal kaderisasi. Saya hanya memanfaatkan momen kaderisasi ini untuk membahas materi tentang mindset. :)

Nilai yang harus masuk ke dalam diri kader yang saya maksud adalah belief. Belief sendiri didefinisikan oleh Adi W. Gunawan sama dengan mindset. Ia menekankan pentingnya belief sebagai master key dalam melakukan perubahan hidup dan diyakininya belief menentukan cara berpikir, berkomunikasi dan bertindak seseorang. Belief adalah cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat memasukkan suatu nilai agar menjadi belief yang tertanam dalam pikiran bawah sadar dari setiap orang. Berikut sekilas informasi dari Adi W. Gunawan.


Mulai jelas kan sekarang? Pendidikan semi militer itu memanfaatkan cara ke-1 dan ke-4 yang disampaikan oleh Adi W. Gunawan. Semoga panitia kaderisasi di ITB dapat berkembang dan mempertimbangkan cara lain yang lebih cocok untuk mengkader kader dari kalangan mahasiswa sains dan teknologi. BTW, buku yang membahas khusus soal rekonstruksi dan dekonstruksi belief karya Adi W. Gunawan berjudul "The Secret of Mindset". Buku best seller ini pertama kali saya baca sewaktu saya kelas 3 SMA. Saya pun langsung menyukai pak Adi W. Gunawan dan sempat juga menghadiri seminar pertamanya di Lampung dulu yang diselenggarakan oleh Gramedia.

Semoga bermanfaat. Salam damai.

Comments

  1. Very good info

    Don't Forget to visit http://ittelkom-sby.ac.id/

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rangkaian Sensor Infrared dengan Photo Dioda

Keunggulan photodioda dibandingkan LDR adalah photodioda lebih tidak rentan terhadap noise karena hanya menerima sinar infrared, sedangkan LDR menerima seluruh cahaya yang ada termasuk infrared. Rangkaian yang akan kita gunakan adalah seperti gambar di bawah ini. Pada saat intensitas Infrared yang diterima Photodiode besar maka tahanan Photodiode menjadi kecil, sedangkan jika intensitas Infrared yang diterima Photodiode kecil maka tahanan yang dimiliki photodiode besar. Jika  tahanan photodiode kecil  maka tegangan  V- akan kecil . Misal tahanan photodiode mengecil menjadi 10kOhm. Maka dengan teorema pembagi tegangan: V- = Rrx/(Rrx + R2) x Vcc V- = 10 / (10+10) x Vcc V- = (1/2) x 5 Volt V- = 2.5 Volt Sedangkan jika  tahanan photodiode besar  maka tegangan  V- akan besar  (mendekati nilai Vcc). Misal tahanan photodiode menjadi 150kOhm. Maka dengan teorema pembagi tegangan: V- = Rrx/(Rrx + R2) x Vcc V- = 150 / (150+10) x Vcc V- = (150/160) x 5

Raspberry Pi Bluetooth Connection

Raspberry Pi 3 provides built-in bluetooh module. Latest Raspbian has been bundled with tools for enabling bluetooth connection. Bluetooth icon will be showed up on top right corner of the desktop. It's a tool to discover available bluetooth devices and connect Pi with bluetooth devices. It is easy to connect any bluetooth-enabled electronic device with Pi. But, sometimes Pi will fail to make a connection especially for bluetooth device which has no standarized services. From terminal, we can use bluetoothctl tool to scan and connect with a bluetooth device. You should make sure that BlueZ protocol stack has been installed by running $ apt-get install bluez Run bluetoothctl to enter the tool command window Turn the power on by running power on (Optional) You can set AutoEnable=true in /etc/bluetooth/main.conf if you want to make the bluetooth auto power-on after reboot. Run devices to see which devices have been paired Run scan on if your desired device has not pair

Kerusakan pada Motherboard

1. Sering terjadi hang memory tidak cocok --- ganti memory ada virus di harddisk --- scan harddisk over clock --- seting kembali clock prosesor ada bad sector di harddisk --- partisi harddisk dengan benar 2. Pembacaan data menjadi lambat memori tidak cukup --- tambah memori harddisk penuh atau ada virus --- kurangi isi harddisk, scan harddisk, atau ganti hardisk 3. CMOS failure baterai habis --- ganti baterai CMOS seting BIOS berubah --- seting kembali BIOS 4. Tidak bisa booting cache memory rusak --- disable eksternal cache memory di BIOS memori tidak cocok --- ganti memori boot sector pada harddisk rusak --- masukkan operating system baru ada bad sector pada trek awal harddisk --- partisi harddisk 5. Suara bip panjang berkali-kali memori rusak --- periksa kedudukan memori memori tidak cocok --- ganti memori memori tidak masuk slot dengan sempurna --- periksa kembali kedudukan memori 6. Suara bip bagus tetapi tidak ada tampilan / bip dua kali VGA card

How To Use Git in Netbeans

Git is a popular version control application nowadays. Recently I have created a note about its differences with SVN and how to use it in Eclipse . There are many Git client tools. But I just want to show how to use Netbeans built in Git tools. It makes development process easier because it has been integrated with the IDE. Create Remote Git Repository We need remote Git repository so everyone can store or receive any revision or updated files through the networks. We can setup our own Git server or use public Git server like Github . In this note, I use Github. 1. Create an account in Github and create an empty Git repository Create an empty public repository in Github 2. Get the remote repository link Your Github Repository URL Create a New Project in Netbeans and Create Local Git Repository After we have a remote Git repository, we can create a project which will be stored to remote repository. We also need to create local repository before we can push

Itachi Uchiha

The Real Hero of Konoha

Run Python Scripts Using PHP in a Linux Environment

How to run python or other scripts using PHP or other popular web programming languages in a Linux environment? Problem We want to access PHP program through a web server application (Apache/Nginx). The PHP program need to run other scripts stored in the same machine. Sample Problem PHP program is located in /var/www/html/index.php Python program is located in /var/www/html/capture.py Python program will access Pi Camera, capture an image, and store it in /var/www/html/assets/photo.jpg Solution index.php should access and run capture.py script. The script is as follows: $output = shell_exec("python /var/www/html/capture.py"); Execution of external program using shell_exec() or exec() will block the program. The next line of PHP codes will be run after external program returns an output. So, we shouldn't run excessive amount of external program. Clients will wait too long on their browser. If our application actually need many external pr